Day 3 - Mudik ke NTB

Sabtu, 19 September 2009
The last fasting – malam Takbiran

Hari ini bangun sahur seperti biasa. Bedanya aku sudah berada di rumah nenek, sahur bersama nenek dan saudara-saudara. Hari ini aku belum tau akan melakukan apa. Ya, aku iseng-iseng aja coba internet, kali aja bisa. Ternyata bisa, tapi agak ngadat-ngadat gimana gtu.

Pukul 08.00 wita, mama memintaku untuk segera mandi. Aku, mama, ayah dan tante osi akan menjemput sepupuku di bandara. Sepupu dari ayahku, ia anak dari adik ayahku. Pukul 10.00 wita, kami sudah tiba di bandara. Satu jam kami menunggu, sepupuku baru sampai. Per-usil-an pun muncul. Aku hanya bisa bersabar. Ya Allah.... *maaf aku tidak bisa menjelaskannya lebih detail

Sesampai di rumah, per-usil-an makin terlihat jelas. *maaf aku menggunakan kata per-usil-an, karena bagiku itu tindakan usil tante-tanteku

Hmm,, yang ku syukuri dan membuatku terharu adalah perkataan mama dan ayah.
*kayanya semua keluarga ku lupa kalo aku ngerti bahasa bima*

Intinya adalah
”semua terserah indri, ga bisa dipaksain”

Alhamdulillah ya Allah, bersyukurnya aku mempunyai mama dan ayah seperti mereka. Aku tak khan menyia-yiakan kepercayaan mereka, kan ku pilihkan pangeran terbaik dimuka bumi ini. *Amin ya Allah.. (hai pangeranku, kelak tunjukkan pada mereka bahwa kamu menyayangi mereka seperti aku menyayangi mereka.^^)

Sore hari, keluargaku dan keluarga tante nur, pergi membeli madu. Bima itu khas dengan madunya yang sangat enak dan berkhasiat. *ada yang mau titip beli?
Kami pergi ke rumah pedagang madu, teman dari tante marfuah. Hmm,, tertarik juga jadinya aku menjadi saudagar madu. Hehe (jiwa.dagang.mode: ON)

Setelah itu kami, bergegas ke Rumah untuk bersiap-siap berbuka puasa.
Hwaa, ini puasa terakhir. Sedih juga rasanya ditinggal bulan Ramadhan.
Aku hanya berdo’a kelak aku dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan dan aku mndapatkan kemenangan idul Fitri yang hakiki di hari esok.
Pada malam hari, ayah dan mama mengajak ku pergi ke rumah mertua kak ita. *FYI, suaminya kak ita orang bima juga, tapi kalo istrinya aa orang jawa* --> kebayang donk, aku harus berkaca pada siapa? Atau membuat inovasi baru? (ngomong apa c, ndrii)

Setelah ke rumah mertua kak ita, kami mampir ke rumah tante marfuah. Awalnya, ragu apakah beliau ada di rumah atau tidak. Rumah sepi, dipanggil tidak ada yang nyaut. Akhirnya, ditelpon dan ada orang lah di dalam. Saat berkunjung ke rumah tante marfuah, ada 1 hikmah yang bisa aku ambil. Dan semakin bersyukur diriku, memiliki mama dan ayah seperti mereka.

Begini ceritanya, tante marfuah memiliki anak perempuan seorang mahasiswa yogyakarta bernama anna. Ia cerita bahwa dilarang untuk berpergian. Aku tau kecemasan apa yang ada dipikiran ibunya. Ibunya menyuruh dia untuk belajar saja, tidak boleh pergi ke mana-mana. Saat liburan hanya boleh pulang kampung ke bima, tidak boleh ke Surabaya ataupun Jakarta.

Hmm,, berkaca pada diriku. Aku sering menginap di sana dan di sini. Aku sering pulang malam. Aku sering menghabiskan hari sabtu dan minggu untuk kegiatan di luar. Tapi aku tak pernah dilarang. Sungguh luar biasa kepercayaan mereka. Satu hal yang selalu aku lakukan adalah selalu memberitahukan kemana dan kegiatan apa yang akan aku lakukan. Kepercayaan! Itulah yang terpenting. Ketika mereka yakin anaknya tidak akan berbuat macam-macam, maka tak ada rasa kecemasan yang muncul.

Alhamdulillah ya Rabb,,
Lindungilah mereka,,
Berilah mereka kesehatan,,
aku ingin mereka melihat kesuksesanku menjadi seorang dokter gigi,,
aku ingin mereka melihat cucu-cucu yang dilahirkan dari rahimku..

ya Allah,, berikan aku kesempatan untuk membahagiakan mereka... ^^


------------------------ to be continued ----------------------------------

2 comments:

Iii, Kamu itu bener2 lagi merindukan pangeranmu itu?
Sabar sayang.. Aku dulu.. Hehehe
Hmm, jadinya bima, jawa atau yang lain?
Hahaha

 

rindu?
pangerannya siapa aja, aku belum tau..

haha iya iya, kamu duluan..
*ga ngelangkahin yang tua deh.. hehe

hmm,, terserah Allah aja.. ^^