Day 2 - Mudik ke NTB

18 September 2009

Puasa hari ini, aku tidak ikut sahur. Maklum jam 00.00 WITA saat sampai di rumah oom, kami disuguhi makanan. Jadi, aku memutuskan makan ku saat itu adalah sahurku. Mama dan Ayah tetap bangun untuk sahur, tapi tubuhku terkapar di tempat tidur menolak untuk bangun. Aku pun meneruskan tidurku.

Pagi-pagi sekali pukul 05.30 WITA, kami harus segera meninggalkan rumah untuk berangkat ke terminal. Kami akan berangkat pukul 07.00 WITA menuju Bima dengan bus Surabaya Indah. Aku belum tahu seperti apa bus itu. Aku pernah 1 kali naik bus dari Bima menuju Mataram dengan Bus Langsung Indah. Bus Langsung Indah cukup Ok, aku tidak merasakan seperti naik bus. Kami pun menunggu di bawah pohon sambil mengobrol. Dan ternyata bus baru datang pukul 08.00 WITA.

Bus Surabaya Indah pun datang. Bus itu tidak lebih baik dari bus 63 yang biasa ku naiki. Ikhlas dan sabar itu kunci nya. Mungkin hanya terlihat buruk saja bus nya, mungkin perjalanan ku akan sangat menyenangkan dengan bus ini.

Dengan berbekal do’a kami pun berangkat. Hmm,, ternyata dugaanku benar. Bus ini sungguh buruk. Segala bentuk guncangan terasa saat perjalanan. Bus ini ternyata memang Bus kelas ekonomi berbeda dengan Langsung Indah. Ya, Bismillah.. Semoga kami selamat sampai tujuan.

Hmm,, untuk menghindari mabuk, dan memang dasar aku nya keboo,, sepanjang perjalanan aku tidur. Karena tidak ada yang dapat ku lakukan selain itu, karena guncangan sungguh dahsyat. Jalan berkelok kelok, kanan kiri kanan kiri.. hohoho Mabook... kadang sekali-sekali ku terbangun karena posisiku yang mengganggu sepupuku-manda yang juga tertidur di samping ku. Dan kadang terbangun pula karena sang supir tetap menaiki penumpang padahal kursi sudah full. Jadi, penumpang yang baru, ia suruh berdiri. *Bis antar kota macam apa ini? Koq seperti Bis dalam kota yang sering ku naiki. Sabar.. Sabar.. Sabar..

Hwaa,, Subhanallah perjalanan ku kali ini.. Jujur, sungguh melelahkan..

Akhirnya, Kami sampai di Pelabuhan. Kami akan bertolak ke Pulau Sumbawa. *ingat mataram itu berada di pulau Lombok, sedangkan Bima ada di Pulau Sumbawa*
Kami bergegas turun dari bis. Bis sungguh semakin sumpek dipenuhi para penjual nanas dan nasi. Hello, apa kalian tau kami sedang berpuasa? *Hayoo,, sabar!! ^^

Kapal Ferry!! Iya, kami naik kapal Ferry. Kami menunggu di ruang tunggu AC yang katanya bebas rokok tapi sempet ada yang ngerokok. Orang Indonesia koq begitu ya.
Oya, ada pengamen kapal lhoo. Dan bedanya mereka tuh ber5-an gitu, jadi ramai. Seru deh pokoknya. Trus tiba-tiba ada seorang pria maju ke depan menjelaskan bagaimana kondisi kapal dan penggunaan pelampung. Ya seperti pramugari di pesawat-pesawat. Awalnya aku heran, berkali-kali aku naik kapal ferry, ga ada tuh yang nerangin kaya gini. Ternyata eh ternyata, dia bukan petugas kapal. Ia penjual barang keliling. Tapi kawan, bahasa yang ia pergunakan sungguh baik, sangat persuasif. Aku perhatikan sekelilingku, dan semua orang dengan serius memperhatikan dia. Berarti dia berhasil menarik perhatian para penumpang. Ayahku saja membeli satu barang dari dia yaitu keranjang baju kotor yang bisa dilipat jadi kecil seharga 10.000 rupiah. Wah, hebat hebat!! d^^b (2jempol untuk pria itu)

Pemandangan di luar sana sungguh indah. Hamparan laut biru, awan putih dan pegunungan yang tandus. Rasanya aku ingin berdiri di pinggir kapal, untuk menyaksikan lebih dekat alam ciptaan Allah. Tapi apa daya, perutku sudah berguncang-guncang, ku putuskan untuk tidur saja.

Kringggg Kringggg (bel kapal berbunyi tanda akan mendarat)
Kami pun bergegas berdiri menuju tangga. Kami harus kembali ke Bus. Dan aku kembali bersiap untuk tidur. *maav ya aku tidur terus, karena sungguh tak ada yang bisa kulakukan selain itu. Kalian harus merasakan bagaimana pusingnya naik bus itu*

Sudah pukul 13.00 WITA, bus pun berhenti di sebuah rumah makan. Tentunya kami turun bukan untuk makan, tapi shalat dzuhur dan Ashar. Mushola nya sungguh kecil, akupun meminta izin sang mpunya restoran untuk shalat di dalam kamar. Yuhu, proposal diterima! *ternyata, sudah ada yang lebih dulu shalat dikamar, yaitu seorang wanita bercadar.

Kami melanjutkan perjalanan. Tidak ada sesi istirahat lagi. Kami akan terus melaju hingga terminal Bima. Hwaa,, masih sungguh jauh dan jalanan pun semakin berkelok-kelok. Mual oh Mual. Penumpang yang lain sudah ada yang berhasil mengeluarkan isi perutnya lewat mulut. Alhamdulillah, perutku masih aman. Mungkin dari kecil aku sudah terbiasa diajak bermual-mual sama mama dan ayah, jadi sudah kebal. Hehe

Aku pun tertidur pulas. Aku berharap saat aku terbangun, kami sudah sampai di Bima. Tapi tiba-tiba bus kami berhenti. Ada apa ini? Hoho.. Ban bis kami bocor.. Bahaya oh bahaya. Pak supir pun segera mengganti ban. Beberapa penumpang turun sambil menikmati panorama pulau Sumbawa yang tandus. Hoo,, gunung dan bukit di sini sangat tandus, hanya warna coklat yang kulihat.


Kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Bima pukul 20.00 WITA

Alhamdulillah,, sampai jugaa...
Berasa perjalanan 3 hari...
Lama sekali...
Tidak sampai-sampai...

Kami dijemput oleh saudara-saudara kami menuju rumah nenek umi (Ibu dari mamaku). Sesampai di sana, salam sana salam sini. Hohoho senangnya bertemu sanak sodara...
Selesai beres-beres dan menunaikan kewajiban, kami langsung memesan bakso depan rumah nenek yang mantap sekali!! Aku namakan Bakso Nenek. Aku juga heran kenapa baksonya enak banget, kayanya sih sama aja. Tapi setiap aku pulang kampung, hampir tiap hari makan bakso itu. Hehe

Sudah larut malam, kami bergegas istirahat. Masih ada hari esok, yang kuyakini pasti menyenangkan dan mengandung banyak hikmah.

Tunggu ceritaku di hari esok ya... ^^

--------------------------- to be continued --------------------------------------------------

0 comments: