”Buanglah sampah pada tempatnya” , kalimat klise yang sering kita lihat dan dengar. Setiap tempat yang kita kunjungi, tidak jarang dihiasi kalimat ini. Dan tentu kita ingat, ini adalah nilai dasar yang biasa diajarkan orangtua atau guru kita di sekolah. Sebuah nilai yang bertujuan agar kita TERBIASA membuang sampah pada tempatnya, sehingga terciptanya lingkungan yang bersih.
Kalimat ”Buanglah sampah pada tempatnya” pastinya disertai dengan penyediaan tempat sampah pada lingkungan tersebut. (masa’ iya, ada tulisan gede ”Buanglah sampah pada tempatnya”, tapi ga ada tempat sampahnya..hehe) . Ada beberapa lingkungan yang memisahkan sampah-sampahnya berdasarkan jenis sampah tersebut, atau hanya satu buah tempat sampah biasa. Apapun itu, intinya ada tempat sampah.
Bagaimana dengan lingkungan/tempat yang tidak ada tulisan ”Buanglah sampah pada tempatnya” dan tidak juga disediakan tempat sampah??
Dimana kita harus meletakkan sampah-sampah kita??
Sebuah Fenomena yang saya perhatikan ketika saya berangkat atau pulang dengan kendaraan umum (khususnya mikrolet), yaitu penumpang yang ”lupa” dengan nilai dasar yang telah diajarkan orang tua atau gurunya saat kecil dulu.
Sedih rasanya ketika saya melihat seorang PELAJAR SMP yang sedang kehausan dan meminum 2 gelas air mineral dingin, lalu tanpa bersalah membuang bekas gelasnya ke kolong bangku angkot. Ingin rasanya saya bertanya padanya, ”dek,, gurunya ga ngajarin ya kalo buang sampah mesti pada tempatnya?”. Mungkin menurut pelajar smp itu, kolong bangku angkot adalah tempat yang tepat untuk membuang sampah, khan diajarinnya buanglah sampah pada ”tempatnya”. Ya mungkin pelajar smp itu ”lagi lupa”, saking hausnya.
Lalu saya melihat penumpang lain di waktu yang berbeda. Ada sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki (kayanya masih smp) memilih angkot sebagai kendaraan untuk berpergian. Awalnya adem ayem aja ni keluarga, tapi tiba-tiba sang anak kelaperan. Dan sang ibu memberikan sebuah kantong plastik hitam kepada anak tersebut. Ternyata kantong itu berisi buah klengkeng. (*hmm yummy ya) Anak itu pun segera memakan klengkeng itu. Tentu kalian tahu, seperti apa buah klengkeng, memiliki KULIT yang harus DIKUPAS serta berbiji. Saya pun semakin tertarik untuk memperhatikan anak tersebut. Dan saya kembali sedih, anak itu membuang kulit dan biji buahnya ke jendela alias jalan raya. Saya pun berharap, orang tua nya menegur anak nya karena telah membuang sampah sembarangan. Tapi kalian tahu apa yang terjadi? Sang ayah yang juga kelaparan dan memakan buah klengkeng itu, lalu membuang kulit dan bijinya ke lantai angkot, seperti meletakkan suatu benda ke meja (sangat santai dan tidak merasa bersalah). Kecewa rasanya melihat sang ayah mencontohkan yang tidak baik pada anaknya. Bahkan, saat kulit klengkeng itu terjatuh di tas sang anak, sang ayah menyingkirkan kulit itu ke lantai angkot seakan ia tidak ingin tas anaknya terkotori. Apa mereka tidak sadar, sang pemilik angkot pasti juga tidak ingin kendaraannya dikotori.
Hmm,, masih banyak lagi kejadian-kejadian seperti ini yang saya lihat di angkutan umum. Ini baru diangkutan umum lho, belum di tempat-tempat lain (yang mungkin TELAH disediakan tempat sampah atau fenomena membuang sampah di sungai??).
Nah,, bagaimana nih kalo kita yang berada di tempat yang memang tidak disediakan tempat sampah?
Apa benar yang dilakukan oleh penumpang yang saya ceritakan? *khan ga disediain tempat sampah,, jadi dimana aja boleh buang sampah donk..
Sebenarnya apapun alasannya, membuang sampah sembarangan JELAS SALAH. Entah dengan alasan karena memang tidak disediakan tempat sampah, atau males jalan ke tempat sampahnya, atau mumpung ga ada yang lihat.
Sadarkah kita bahwa hal ”kecil” semacam ini dapat berdampak besar pada bumi kita. Awalnya, membuang sampah sembarangan itu hanya menyebabkan lingkungan jadi tidak bersih. Tapi pada akhirnya membuang sampah sembarangan itu dapat menimbulkan bencana, misalnya BANJIR *ibukota kita banjir karena apa? Karena sampah kah? (renungkan!)
Jadi solusi nya gimana nih??
Untuk tempat/lingkungan yang ADA tempat sampahnya: ya jelas “buanglah sampah pada tempatnya”. Hilangkan segala rasa malas dan merasa tidak diawasi.
“,,,. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hadid [57]:4)
*masih berniat membuang sampah sembarangan??
Untuk tempat/lingkungan yang TIDAK ADA tempat sampahnya: hmm,, gimana kalo sampahnya kita kantongin atau masukin dalam tas?? Sampai kita melihat sebuah tempat sampah lalu membuangnya.
Apa kalian merasa jijik jika sampah kalian diletakkan di dalam kantong baju atau tas? Kalo kalian sendiri jijik dengan sampah kalian sendiri, bagiamana dengan orang lain yang menemukan sampah kalian?? Coba dipikirkan.
Mana yang kalian pilih?
a. menjadi orang yang suka membuang sampah sembarangan
b. menjadi orang yang tas/kantong bajunya berisi sampah
HIDUP ADALAH PILIHAN.
Termasuk ingin berbuat kebaikan atau kerusakan pada bumi kita tercinta ini. :)
”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum [30]:41)
*na’uzubillah, apakah kita menunggu diberikan bencana dahulu, baru kita sadar?
-Terimakasih kepada M01,M18,M28,K02 yang telah setia mengantar saya dan memberikan banyak pengalaman dan pelajaran-
-Maaf kalau ternyata tulisan ini hanya sekedar 'sampah'-
Kalimat ”Buanglah sampah pada tempatnya” pastinya disertai dengan penyediaan tempat sampah pada lingkungan tersebut. (masa’ iya, ada tulisan gede ”Buanglah sampah pada tempatnya”, tapi ga ada tempat sampahnya..hehe) . Ada beberapa lingkungan yang memisahkan sampah-sampahnya berdasarkan jenis sampah tersebut, atau hanya satu buah tempat sampah biasa. Apapun itu, intinya ada tempat sampah.
Bagaimana dengan lingkungan/tempat yang tidak ada tulisan ”Buanglah sampah pada tempatnya” dan tidak juga disediakan tempat sampah??
Dimana kita harus meletakkan sampah-sampah kita??
Sebuah Fenomena yang saya perhatikan ketika saya berangkat atau pulang dengan kendaraan umum (khususnya mikrolet), yaitu penumpang yang ”lupa” dengan nilai dasar yang telah diajarkan orang tua atau gurunya saat kecil dulu.
Sedih rasanya ketika saya melihat seorang PELAJAR SMP yang sedang kehausan dan meminum 2 gelas air mineral dingin, lalu tanpa bersalah membuang bekas gelasnya ke kolong bangku angkot. Ingin rasanya saya bertanya padanya, ”dek,, gurunya ga ngajarin ya kalo buang sampah mesti pada tempatnya?”. Mungkin menurut pelajar smp itu, kolong bangku angkot adalah tempat yang tepat untuk membuang sampah, khan diajarinnya buanglah sampah pada ”tempatnya”. Ya mungkin pelajar smp itu ”lagi lupa”, saking hausnya.
Lalu saya melihat penumpang lain di waktu yang berbeda. Ada sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki (kayanya masih smp) memilih angkot sebagai kendaraan untuk berpergian. Awalnya adem ayem aja ni keluarga, tapi tiba-tiba sang anak kelaperan. Dan sang ibu memberikan sebuah kantong plastik hitam kepada anak tersebut. Ternyata kantong itu berisi buah klengkeng. (*hmm yummy ya) Anak itu pun segera memakan klengkeng itu. Tentu kalian tahu, seperti apa buah klengkeng, memiliki KULIT yang harus DIKUPAS serta berbiji. Saya pun semakin tertarik untuk memperhatikan anak tersebut. Dan saya kembali sedih, anak itu membuang kulit dan biji buahnya ke jendela alias jalan raya. Saya pun berharap, orang tua nya menegur anak nya karena telah membuang sampah sembarangan. Tapi kalian tahu apa yang terjadi? Sang ayah yang juga kelaparan dan memakan buah klengkeng itu, lalu membuang kulit dan bijinya ke lantai angkot, seperti meletakkan suatu benda ke meja (sangat santai dan tidak merasa bersalah). Kecewa rasanya melihat sang ayah mencontohkan yang tidak baik pada anaknya. Bahkan, saat kulit klengkeng itu terjatuh di tas sang anak, sang ayah menyingkirkan kulit itu ke lantai angkot seakan ia tidak ingin tas anaknya terkotori. Apa mereka tidak sadar, sang pemilik angkot pasti juga tidak ingin kendaraannya dikotori.
Hmm,, masih banyak lagi kejadian-kejadian seperti ini yang saya lihat di angkutan umum. Ini baru diangkutan umum lho, belum di tempat-tempat lain (yang mungkin TELAH disediakan tempat sampah atau fenomena membuang sampah di sungai??).
Nah,, bagaimana nih kalo kita yang berada di tempat yang memang tidak disediakan tempat sampah?
Apa benar yang dilakukan oleh penumpang yang saya ceritakan? *khan ga disediain tempat sampah,, jadi dimana aja boleh buang sampah donk..
Sebenarnya apapun alasannya, membuang sampah sembarangan JELAS SALAH. Entah dengan alasan karena memang tidak disediakan tempat sampah, atau males jalan ke tempat sampahnya, atau mumpung ga ada yang lihat.
Sadarkah kita bahwa hal ”kecil” semacam ini dapat berdampak besar pada bumi kita. Awalnya, membuang sampah sembarangan itu hanya menyebabkan lingkungan jadi tidak bersih. Tapi pada akhirnya membuang sampah sembarangan itu dapat menimbulkan bencana, misalnya BANJIR *ibukota kita banjir karena apa? Karena sampah kah? (renungkan!)
Jadi solusi nya gimana nih??
Untuk tempat/lingkungan yang ADA tempat sampahnya: ya jelas “buanglah sampah pada tempatnya”. Hilangkan segala rasa malas dan merasa tidak diawasi.
“,,,. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hadid [57]:4)
*masih berniat membuang sampah sembarangan??
Untuk tempat/lingkungan yang TIDAK ADA tempat sampahnya: hmm,, gimana kalo sampahnya kita kantongin atau masukin dalam tas?? Sampai kita melihat sebuah tempat sampah lalu membuangnya.
Apa kalian merasa jijik jika sampah kalian diletakkan di dalam kantong baju atau tas? Kalo kalian sendiri jijik dengan sampah kalian sendiri, bagiamana dengan orang lain yang menemukan sampah kalian?? Coba dipikirkan.
Mana yang kalian pilih?
a. menjadi orang yang suka membuang sampah sembarangan
b. menjadi orang yang tas/kantong bajunya berisi sampah
HIDUP ADALAH PILIHAN.
Termasuk ingin berbuat kebaikan atau kerusakan pada bumi kita tercinta ini. :)
”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum [30]:41)
*na’uzubillah, apakah kita menunggu diberikan bencana dahulu, baru kita sadar?
-Terimakasih kepada M01,M18,M28,K02 yang telah setia mengantar saya dan memberikan banyak pengalaman dan pelajaran-
-Maaf kalau ternyata tulisan ini hanya sekedar 'sampah'-


0 comments:
Post a Comment