Antara Aku, Tarbiyah dan Dakwah

Aku adalah seorang anak perempuan yang dilahirkan di tengah keluarga yang bernuansa Islam secara cukup, bukan keluarga pejuang Islam tetapi bukan pula keluarga liberalis yang tidak menjunjung tinggi nilai keislaman. Orangtuaku bukan ustadz atau ustadzah yang pandai menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak-anaknya melalui dasar-dasa Islam yang jelas. Orangtuaku hanya mengajarkan ibadah-ibadah wajib dan nilai-nilai moral (yang mungkin sebenarnya mengadaptasi dari nilai-nilai islam itu sendiri). Orangtuaku, demokratis yang taat norma, anaknya dibiarkan memilih dengan menanamkan nilai tanggung jawab yang tinggi. Karena itulah, aku dan kakak-kakakku tidak pernah dilarang untuk melakukan ini dan itu. Tapi rasa tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan orang tua kami itulah yang membuat kami tidak ingin berbuat yang ‘aneh-aneh’. Kedua kakakku memiliki kepribadian Islam yang cukup kental. Kakakku yang perempuan terlihat “berjilbab lebar” dan kakakku yang laki-laki khas dengan “jenggot dan celana bahan agak ngatung”. Walaupun kita tahu, itu bukanlah ukuran tingkat keislaman seseorang. Berbeda dengan orangtuaku, kakakku hanya mengenalkan nilai-nilai keislaman melalui figur diri mereka masing-masing. Aku belajar banyak dari mengamati kehidupan mereka sehari-hari. Begitulah cara keluargaku membentuk keislaman pada diriku.

Seperti yang kita ketahui, kepribadian itu tidak hanya terbentuk dari keluarga tetapi juga lingkungan. Dan lingkungan yang paling berperan adalah lingkungan sekolah. Orangtuaku menitipkanku ke sekolah Alazhar (SD dan SMP). Alazhar merupakan sekolah Islam yang seperti kita ketahui tidak “se-Islami” yang kita harapkan. Mungkin karena itulah, aku tidak tergerak untuk belajar Islam lebih dalam ataupun menerapkan nilai-nilai Islam pada diriku, memakai jilbab misalnya. Lalu saat SMA demi mengejar cita-cita, aku masuk di SMA negeri yang kata orang-orang unggulan. Di lingkungan SMA negeri ini, aku semakin jauh dari nilai-nilai keislaman. Sekolah berlabel negeri, yang tentu saja nilai agama bukan nomor satu. Di SMA ini memang ada sebuah lembaga bernama Rohis, satu-satunya tempat ”teduh”, mengenal Islam yang sesungguhnya. Tetapi godaan (dan permintaan orang tua, pastinya) untuk menamatkan SMA hanya dua tahun, mendorongku hanya menghabiskan masa SMA dengan belajar. Dan sampai detik itupun, aku belum tersentuh tarbiyah. Walaupun ada program, seperti pesantren ramadhan yang mewajibkanku mengikuti sebuah kelompok mentoring. Itupun hanya satu kali saat pesantren tersebut dan memutuskan untuk tidak meneruskannya. Memang hidayah belum datang dan sepertinya aku tidak berusaha menjemput. Menyedihkan....

Aku pun melanjutkan perjalanan hidupku di perkuliahan bernama FKG UI. Aku tidak punya kawan lama di sini, tidak ada teman-teman SMAku yang masuk ke fakultas ini. Memang bukan hal sulit bagiku mendapatkan teman baru. Tapi, aku tidak ingin sembarang memilih teman. Salah satu bagaimana cara aku mendapatkan teman yang terbaik adalah dengan salah satu tekadku. Aku ingin menjadi mahasiswa yang aktif. Selain aku bisa mengenal banyak orang, aku juga bisa belajar banyak hal. Mungkin rasa kebosananku menghabiskan masa SMA hanya dengan belajar yang membuatku bertekad seperti itu. Dan karena itulah, aku begitu aktif mengikuti semua kegiatan, termasuk kajian Islam. Hingga suatu ketika aku mengikuti sebuah kajian bernama Salam Salemba. Di sinilah awal mula transformasi diriku. Aku memutuskan untuk mengenakan jilbab setelah menghadiri kajian ini. Tak perlu keceritakan bagaimana aku bisa memutuskan hal tersebut. Allah memang sedang memberi hidayah kepadaku, dan aku berusaha menjemputnya. Dari situlah aku mulai belajar Islam secara mendalam. Aku mulai bertanya hal-hal keislaman yang dulu tak pernah terpikirkan olehku. Dan akhirnya, akupun tersentuh tarbiyah. Aku mengikuti mentoring yang memang wajib untuk mahasiswa baru. Saat itupun kelompok mentoringku belum berjalan dengan baik, hanya beberapa kali mengadakan pertemuan. Tapi, Allah memang menyayangiku. Allah membuatku untuk bersemangat untuk mencari tahu bagaimana agar aku tetap mentoring dan membentuk kelompok baru. Karena kelompokku yang lama memang benar-benar jarang sekali mengadakan pertemuan dan seakan punah. Akhirnya, mentoring menjadi hal rutin ku setiap pekan.

Seiring jalannya waktu, aku mengenal banyak hal dan mendapatkan berbagai materi keislaman. Lalu timbul pertanyaan pada diriku, untuk apa ilmu-ilmu yang sudah kudapat?
Berdakwah! Kata yang tidak familiar jika ku dengar sekarang, tapi saat itu tentu aku tidak mengerti urgensi dakwah dan makna dakwah, aku hanya tahu kalau aku harus memberi ilmu-ilmu yang telah ku ketahui dan mengajak orang lain untuk belajar Islam. Dan aku bertekad melalui Dept. Syi’ar BPI lah aku bisa melakukan itu. Melalui syi’ar BPI lah, Allah memberikan perubahan-perubahan pada diriku. Dengan alasan ”kamu anak syi’ar lho, harus jadi teladan.” membuatku harus terus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Aku semakin bersemangat belajar Islam, mungkin hal itulah yang membuat ku harus melalui suatu proses untuk berhijrah dari mentoring ke Liqo. Saat itu aku hanya berpikir bahwa dengan liqo aku bisa mendapatkan pelajaran Islam yang lebih mendalam. Suatu ketika, aku ditawarkan untuk mengikuti suatu proses agar aku dapat membina. Subhanallah, tugas yang berat. Tapi aku terpikirkan sebuah kata ”berdakwah!”, mungkin ini bisa menjadi bentuk dakwah yang lain. Berdakwah dalam Tarbiyah.

Kajian demi kajian, akhirnya aku menemukan suatu titik bahwa Islam itu menyeluruh. Islam tidak hanya mengatur tentang beribadah, tetapi semua aspek kehidupan. Sebuah paradigma yang salah, yang terbangun pada diriku bahwa Islam untuk mendapatkan ridha Allah hanya dari ibadah-ibadah khusus. Aku tersadarkan bahwa ada berbagai aspek yang harus kita capai, benahi dan jaga bersama. Aku pun memutuskan untuk melebarkan sayap dakwahku ke aspek-aspek yang tak pernah terpikirkan olehku. Visiku semakin meluas, aku tidak hanya ingin berdakwah untuk keluarga atau hanya untuk fakultas/kampusku tapi untuk bangsa dan negeriku (mungkin lebih luas lagi). Mungkin dengan ilmuku yang sekarang, aku belum bisa beramal secara luas. Aku masih memiliki banyak kekurangan. Perubahan, perbaikan, pembelajaran adalah proses hidup. Dengan tekadku yang kuat untuk mendapatkan ridha Allah, aku akan terus belajar, menimba ilmu sebanyak yang aku bisa dan beramal seluas yang dapat kujangkau selama hidup yang Allah beri kepadaku. Berilmu dengan Tarbiyah, beramal melalui Dakwah. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepadaku. Amin

Wallahu a’lam bish shawab
-Terimakasih kepada MR.ku atas tugas essay ini-

3 comments:

ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, wajib bagi kita untuk mengetahui 4 perkara:
1. Ilmu, yakni mengenal Allah, mengenal Rasul-Nya dan mengenal agama islam, dengan dalil-dalilnya

2. Beramal dengan ilmu tersebut

3. Mendakwahkan ilmu tersebut

4. Bersabar atasnya

(Syakh Muhammad bin Abdul Wahab dalam Ushul Ats-Tsalatsa)

Ilmu adalah pijakan utama segala hal, maka berilmu lah sebelum berkata dan berbuat.

 

Subhanallah... Islam itu memang sudah sempurna dek, tidak perlu ditambah-tambah lagi...