Posted by
Indri Khairati Pratiwi
comments (0)

Mentari menyala di sini
Di sini di dalam hatiku
Gemuruhnya sampai di sini
Di sini di urat darahku
Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satu pun yang mampu menghalangiku
Menyala di dalam hatiku
Hari ini hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap menyala
Di sini di urat darahku
Sebuah potongan bait lagu yang berjudul Mentari. Lagu ini biasa dinyanyikan oleh
mahasiswa ketika dalam keadaan sempit dan mengharapkan sebuah cahaya
harapan akan perubahan. Sebuah perubahan yang niscaya dan tentu menjadi
sebuah idaman bagi semua umat manusia. Sebuah perubahan ke arah yang lebih
baik.
(dikutip dari buku RMDK bagian prolog)
*kalo mau denger lagunya versi jadul:
http://www.4shared.com/file/113192979/6bd5c2e3/Mentari__Asli_.html
[24:35] Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus {1040}, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) {1041}, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (AN NUUR (Cahaya) ayat 35)
[2:214] Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya Pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya Pertolongan Allah itu amat dekat. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 214)
[13:11] Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(AR RA'DU (Petir) ayat 11)
Di sini di dalam hatiku
Gemuruhnya sampai di sini
Di sini di urat darahku
Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satu pun yang mampu menghalangiku
Menyala di dalam hatiku
Hari ini hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap menyala
Di sini di urat darahku
Sebuah potongan bait lagu yang berjudul Mentari. Lagu ini biasa dinyanyikan oleh
mahasiswa ketika dalam keadaan sempit dan mengharapkan sebuah cahaya
harapan akan perubahan. Sebuah perubahan yang niscaya dan tentu menjadi
sebuah idaman bagi semua umat manusia. Sebuah perubahan ke arah yang lebih
baik.
(dikutip dari buku RMDK bagian prolog)
*kalo mau denger lagunya versi jadul:
http://www.4shared.com/file/113192979/6bd5c2e3/Mentari__Asli_.html
[24:35] Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus {1040}, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) {1041}, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (AN NUUR (Cahaya) ayat 35)
[2:214] Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya Pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya Pertolongan Allah itu amat dekat. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 214)
[13:11] Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(AR RA'DU (Petir) ayat 11)
Labels:
Islam
,
Pemikiran Mahasiswa
Posted by
Indri Khairati Pratiwi
comments (0)

Ketika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia,,,
ALLAH tahu betapa keras engkau sudah berusaha.
Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih,,,
ALLAH sudah menghitung air matamu.
Ketika kau fikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berjalan begitu saja,,,
ALLAH sedang menunggu bersamamu.
Ketika kau berfikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi,,,
ALLAH sudah punya jawabannya.
Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan,,,
ALLAH dapat menenangkanmu.
Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon,,,
ALLAH selalu berada disampingmu.
Ketika kau mendambakan sebuah cinta sejati yang tak kunjung datang,,,
ALLAH mempunyai Cinta dan Kasih yang lebih besar dari segalanya dan DIA telah menciptakan seseorang yang akan menjadi pasangan hidupmu kelak.
Ketika kau merasa bahwa kau mencintai seseorang, namun kau tahu cintamu tak terbalas,,,
ALLAH tahu apa yang ada di depanmu dan DIA sedang mempersiapkan segala yang terbaik untukmu.
Ketika kau merasa telah dikhianati dan dikecewakan,,,
ALLAH dapat menyembuhkan lukamu dan membuatmu tersenyum.
Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapanmu,,,
ALLAH sedang berbisik kepadamu.
Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi,,,
ALLAH sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.
Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban,,,
ALLAH telah tersenyum padamu.
Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur,,,
ALLAH telah meridhoimu.
Ingat dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap,,,
ALLAH tahu.
-sebuah tulisan di sebuah mading SMA 8 yang dituliskan oleh ROHIS 8 yang saya baca saat berkunjung ke 8, 21maret2009-
ALLAH tahu betapa keras engkau sudah berusaha.
Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih,,,
ALLAH sudah menghitung air matamu.
Ketika kau fikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berjalan begitu saja,,,
ALLAH sedang menunggu bersamamu.
Ketika kau berfikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi,,,
ALLAH sudah punya jawabannya.
Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan,,,
ALLAH dapat menenangkanmu.
Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon,,,
ALLAH selalu berada disampingmu.
Ketika kau mendambakan sebuah cinta sejati yang tak kunjung datang,,,
ALLAH mempunyai Cinta dan Kasih yang lebih besar dari segalanya dan DIA telah menciptakan seseorang yang akan menjadi pasangan hidupmu kelak.
Ketika kau merasa bahwa kau mencintai seseorang, namun kau tahu cintamu tak terbalas,,,
ALLAH tahu apa yang ada di depanmu dan DIA sedang mempersiapkan segala yang terbaik untukmu.
Ketika kau merasa telah dikhianati dan dikecewakan,,,
ALLAH dapat menyembuhkan lukamu dan membuatmu tersenyum.
Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapanmu,,,
ALLAH sedang berbisik kepadamu.
Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi,,,
ALLAH sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.
Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban,,,
ALLAH telah tersenyum padamu.
Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur,,,
ALLAH telah meridhoimu.
Ingat dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap,,,
ALLAH tahu.
-sebuah tulisan di sebuah mading SMA 8 yang dituliskan oleh ROHIS 8 yang saya baca saat berkunjung ke 8, 21maret2009-
Posted by
Indri Khairati Pratiwi
comments (3)
Aku adalah seorang anak perempuan yang dilahirkan di tengah keluarga yang bernuansa Islam secara cukup, bukan keluarga pejuang Islam tetapi bukan pula keluarga liberalis yang tidak menjunjung tinggi nilai keislaman. Orangtuaku bukan ustadz atau ustadzah yang pandai menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak-anaknya melalui dasar-dasa Islam yang jelas. Orangtuaku hanya mengajarkan ibadah-ibadah wajib dan nilai-nilai moral (yang mungkin sebenarnya mengadaptasi dari nilai-nilai islam itu sendiri). Orangtuaku, demokratis yang taat norma, anaknya dibiarkan memilih dengan menanamkan nilai tanggung jawab yang tinggi. Karena itulah, aku dan kakak-kakakku tidak pernah dilarang untuk melakukan ini dan itu. Tapi rasa tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan orang tua kami itulah yang membuat kami tidak ingin berbuat yang ‘aneh-aneh’. Kedua kakakku memiliki kepribadian Islam yang cukup kental. Kakakku yang perempuan terlihat “berjilbab lebar” dan kakakku yang laki-laki khas dengan “jenggot dan celana bahan agak ngatung”. Walaupun kita tahu, itu bukanlah ukuran tingkat keislaman seseorang. Berbeda dengan orangtuaku, kakakku hanya mengenalkan nilai-nilai keislaman melalui figur diri mereka masing-masing. Aku belajar banyak dari mengamati kehidupan mereka sehari-hari. Begitulah cara keluargaku membentuk keislaman pada diriku.
Seperti yang kita ketahui, kepribadian itu tidak hanya terbentuk dari keluarga tetapi juga lingkungan. Dan lingkungan yang paling berperan adalah lingkungan sekolah. Orangtuaku menitipkanku ke sekolah Alazhar (SD dan SMP). Alazhar merupakan sekolah Islam yang seperti kita ketahui tidak “se-Islami” yang kita harapkan. Mungkin karena itulah, aku tidak tergerak untuk belajar Islam lebih dalam ataupun menerapkan nilai-nilai Islam pada diriku, memakai jilbab misalnya. Lalu saat SMA demi mengejar cita-cita, aku masuk di SMA negeri yang kata orang-orang unggulan. Di lingkungan SMA negeri ini, aku semakin jauh dari nilai-nilai keislaman. Sekolah berlabel negeri, yang tentu saja nilai agama bukan nomor satu. Di SMA ini memang ada sebuah lembaga bernama Rohis, satu-satunya tempat ”teduh”, mengenal Islam yang sesungguhnya. Tetapi godaan (dan permintaan orang tua, pastinya) untuk menamatkan SMA hanya dua tahun, mendorongku hanya menghabiskan masa SMA dengan belajar. Dan sampai detik itupun, aku belum tersentuh tarbiyah. Walaupun ada program, seperti pesantren ramadhan yang mewajibkanku mengikuti sebuah kelompok mentoring. Itupun hanya satu kali saat pesantren tersebut dan memutuskan untuk tidak meneruskannya. Memang hidayah belum datang dan sepertinya aku tidak berusaha menjemput. Menyedihkan....
Aku pun melanjutkan perjalanan hidupku di perkuliahan bernama FKG UI. Aku tidak punya kawan lama di sini, tidak ada teman-teman SMAku yang masuk ke fakultas ini. Memang bukan hal sulit bagiku mendapatkan teman baru. Tapi, aku tidak ingin sembarang memilih teman. Salah satu bagaimana cara aku mendapatkan teman yang terbaik adalah dengan salah satu tekadku. Aku ingin menjadi mahasiswa yang aktif. Selain aku bisa mengenal banyak orang, aku juga bisa belajar banyak hal. Mungkin rasa kebosananku menghabiskan masa SMA hanya dengan belajar yang membuatku bertekad seperti itu. Dan karena itulah, aku begitu aktif mengikuti semua kegiatan, termasuk kajian Islam. Hingga suatu ketika aku mengikuti sebuah kajian bernama Salam Salemba. Di sinilah awal mula transformasi diriku. Aku memutuskan untuk mengenakan jilbab setelah menghadiri kajian ini. Tak perlu keceritakan bagaimana aku bisa memutuskan hal tersebut. Allah memang sedang memberi hidayah kepadaku, dan aku berusaha menjemputnya. Dari situlah aku mulai belajar Islam secara mendalam. Aku mulai bertanya hal-hal keislaman yang dulu tak pernah terpikirkan olehku. Dan akhirnya, akupun tersentuh tarbiyah. Aku mengikuti mentoring yang memang wajib untuk mahasiswa baru. Saat itupun kelompok mentoringku belum berjalan dengan baik, hanya beberapa kali mengadakan pertemuan. Tapi, Allah memang menyayangiku. Allah membuatku untuk bersemangat untuk mencari tahu bagaimana agar aku tetap mentoring dan membentuk kelompok baru. Karena kelompokku yang lama memang benar-benar jarang sekali mengadakan pertemuan dan seakan punah. Akhirnya, mentoring menjadi hal rutin ku setiap pekan.
Seiring jalannya waktu, aku mengenal banyak hal dan mendapatkan berbagai materi keislaman. Lalu timbul pertanyaan pada diriku, untuk apa ilmu-ilmu yang sudah kudapat?
Berdakwah! Kata yang tidak familiar jika ku dengar sekarang, tapi saat itu tentu aku tidak mengerti urgensi dakwah dan makna dakwah, aku hanya tahu kalau aku harus memberi ilmu-ilmu yang telah ku ketahui dan mengajak orang lain untuk belajar Islam. Dan aku bertekad melalui Dept. Syi’ar BPI lah aku bisa melakukan itu. Melalui syi’ar BPI lah, Allah memberikan perubahan-perubahan pada diriku. Dengan alasan ”kamu anak syi’ar lho, harus jadi teladan.” membuatku harus terus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Aku semakin bersemangat belajar Islam, mungkin hal itulah yang membuat ku harus melalui suatu proses untuk berhijrah dari mentoring ke Liqo. Saat itu aku hanya berpikir bahwa dengan liqo aku bisa mendapatkan pelajaran Islam yang lebih mendalam. Suatu ketika, aku ditawarkan untuk mengikuti suatu proses agar aku dapat membina. Subhanallah, tugas yang berat. Tapi aku terpikirkan sebuah kata ”berdakwah!”, mungkin ini bisa menjadi bentuk dakwah yang lain. Berdakwah dalam Tarbiyah.
Kajian demi kajian, akhirnya aku menemukan suatu titik bahwa Islam itu menyeluruh. Islam tidak hanya mengatur tentang beribadah, tetapi semua aspek kehidupan. Sebuah paradigma yang salah, yang terbangun pada diriku bahwa Islam untuk mendapatkan ridha Allah hanya dari ibadah-ibadah khusus. Aku tersadarkan bahwa ada berbagai aspek yang harus kita capai, benahi dan jaga bersama. Aku pun memutuskan untuk melebarkan sayap dakwahku ke aspek-aspek yang tak pernah terpikirkan olehku. Visiku semakin meluas, aku tidak hanya ingin berdakwah untuk keluarga atau hanya untuk fakultas/kampusku tapi untuk bangsa dan negeriku (mungkin lebih luas lagi). Mungkin dengan ilmuku yang sekarang, aku belum bisa beramal secara luas. Aku masih memiliki banyak kekurangan. Perubahan, perbaikan, pembelajaran adalah proses hidup. Dengan tekadku yang kuat untuk mendapatkan ridha Allah, aku akan terus belajar, menimba ilmu sebanyak yang aku bisa dan beramal seluas yang dapat kujangkau selama hidup yang Allah beri kepadaku. Berilmu dengan Tarbiyah, beramal melalui Dakwah. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepadaku. Amin
Wallahu a’lam bish shawab
Seperti yang kita ketahui, kepribadian itu tidak hanya terbentuk dari keluarga tetapi juga lingkungan. Dan lingkungan yang paling berperan adalah lingkungan sekolah. Orangtuaku menitipkanku ke sekolah Alazhar (SD dan SMP). Alazhar merupakan sekolah Islam yang seperti kita ketahui tidak “se-Islami” yang kita harapkan. Mungkin karena itulah, aku tidak tergerak untuk belajar Islam lebih dalam ataupun menerapkan nilai-nilai Islam pada diriku, memakai jilbab misalnya. Lalu saat SMA demi mengejar cita-cita, aku masuk di SMA negeri yang kata orang-orang unggulan. Di lingkungan SMA negeri ini, aku semakin jauh dari nilai-nilai keislaman. Sekolah berlabel negeri, yang tentu saja nilai agama bukan nomor satu. Di SMA ini memang ada sebuah lembaga bernama Rohis, satu-satunya tempat ”teduh”, mengenal Islam yang sesungguhnya. Tetapi godaan (dan permintaan orang tua, pastinya) untuk menamatkan SMA hanya dua tahun, mendorongku hanya menghabiskan masa SMA dengan belajar. Dan sampai detik itupun, aku belum tersentuh tarbiyah. Walaupun ada program, seperti pesantren ramadhan yang mewajibkanku mengikuti sebuah kelompok mentoring. Itupun hanya satu kali saat pesantren tersebut dan memutuskan untuk tidak meneruskannya. Memang hidayah belum datang dan sepertinya aku tidak berusaha menjemput. Menyedihkan....
Aku pun melanjutkan perjalanan hidupku di perkuliahan bernama FKG UI. Aku tidak punya kawan lama di sini, tidak ada teman-teman SMAku yang masuk ke fakultas ini. Memang bukan hal sulit bagiku mendapatkan teman baru. Tapi, aku tidak ingin sembarang memilih teman. Salah satu bagaimana cara aku mendapatkan teman yang terbaik adalah dengan salah satu tekadku. Aku ingin menjadi mahasiswa yang aktif. Selain aku bisa mengenal banyak orang, aku juga bisa belajar banyak hal. Mungkin rasa kebosananku menghabiskan masa SMA hanya dengan belajar yang membuatku bertekad seperti itu. Dan karena itulah, aku begitu aktif mengikuti semua kegiatan, termasuk kajian Islam. Hingga suatu ketika aku mengikuti sebuah kajian bernama Salam Salemba. Di sinilah awal mula transformasi diriku. Aku memutuskan untuk mengenakan jilbab setelah menghadiri kajian ini. Tak perlu keceritakan bagaimana aku bisa memutuskan hal tersebut. Allah memang sedang memberi hidayah kepadaku, dan aku berusaha menjemputnya. Dari situlah aku mulai belajar Islam secara mendalam. Aku mulai bertanya hal-hal keislaman yang dulu tak pernah terpikirkan olehku. Dan akhirnya, akupun tersentuh tarbiyah. Aku mengikuti mentoring yang memang wajib untuk mahasiswa baru. Saat itupun kelompok mentoringku belum berjalan dengan baik, hanya beberapa kali mengadakan pertemuan. Tapi, Allah memang menyayangiku. Allah membuatku untuk bersemangat untuk mencari tahu bagaimana agar aku tetap mentoring dan membentuk kelompok baru. Karena kelompokku yang lama memang benar-benar jarang sekali mengadakan pertemuan dan seakan punah. Akhirnya, mentoring menjadi hal rutin ku setiap pekan.
Seiring jalannya waktu, aku mengenal banyak hal dan mendapatkan berbagai materi keislaman. Lalu timbul pertanyaan pada diriku, untuk apa ilmu-ilmu yang sudah kudapat?
Berdakwah! Kata yang tidak familiar jika ku dengar sekarang, tapi saat itu tentu aku tidak mengerti urgensi dakwah dan makna dakwah, aku hanya tahu kalau aku harus memberi ilmu-ilmu yang telah ku ketahui dan mengajak orang lain untuk belajar Islam. Dan aku bertekad melalui Dept. Syi’ar BPI lah aku bisa melakukan itu. Melalui syi’ar BPI lah, Allah memberikan perubahan-perubahan pada diriku. Dengan alasan ”kamu anak syi’ar lho, harus jadi teladan.” membuatku harus terus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Aku semakin bersemangat belajar Islam, mungkin hal itulah yang membuat ku harus melalui suatu proses untuk berhijrah dari mentoring ke Liqo. Saat itu aku hanya berpikir bahwa dengan liqo aku bisa mendapatkan pelajaran Islam yang lebih mendalam. Suatu ketika, aku ditawarkan untuk mengikuti suatu proses agar aku dapat membina. Subhanallah, tugas yang berat. Tapi aku terpikirkan sebuah kata ”berdakwah!”, mungkin ini bisa menjadi bentuk dakwah yang lain. Berdakwah dalam Tarbiyah.
Kajian demi kajian, akhirnya aku menemukan suatu titik bahwa Islam itu menyeluruh. Islam tidak hanya mengatur tentang beribadah, tetapi semua aspek kehidupan. Sebuah paradigma yang salah, yang terbangun pada diriku bahwa Islam untuk mendapatkan ridha Allah hanya dari ibadah-ibadah khusus. Aku tersadarkan bahwa ada berbagai aspek yang harus kita capai, benahi dan jaga bersama. Aku pun memutuskan untuk melebarkan sayap dakwahku ke aspek-aspek yang tak pernah terpikirkan olehku. Visiku semakin meluas, aku tidak hanya ingin berdakwah untuk keluarga atau hanya untuk fakultas/kampusku tapi untuk bangsa dan negeriku (mungkin lebih luas lagi). Mungkin dengan ilmuku yang sekarang, aku belum bisa beramal secara luas. Aku masih memiliki banyak kekurangan. Perubahan, perbaikan, pembelajaran adalah proses hidup. Dengan tekadku yang kuat untuk mendapatkan ridha Allah, aku akan terus belajar, menimba ilmu sebanyak yang aku bisa dan beramal seluas yang dapat kujangkau selama hidup yang Allah beri kepadaku. Berilmu dengan Tarbiyah, beramal melalui Dakwah. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepadaku. Amin
Wallahu a’lam bish shawab
-Terimakasih kepada MR.ku atas tugas essay ini-
Labels:
Catatan Perjalanan
,
Islam
Posted by
Indri Khairati Pratiwi
comments (0)

”Buanglah sampah pada tempatnya” , kalimat klise yang sering kita lihat dan dengar. Setiap tempat yang kita kunjungi, tidak jarang dihiasi kalimat ini. Dan tentu kita ingat, ini adalah nilai dasar yang biasa diajarkan orangtua atau guru kita di sekolah. Sebuah nilai yang bertujuan agar kita TERBIASA membuang sampah pada tempatnya, sehingga terciptanya lingkungan yang bersih.
Kalimat ”Buanglah sampah pada tempatnya” pastinya disertai dengan penyediaan tempat sampah pada lingkungan tersebut. (masa’ iya, ada tulisan gede ”Buanglah sampah pada tempatnya”, tapi ga ada tempat sampahnya..hehe) . Ada beberapa lingkungan yang memisahkan sampah-sampahnya berdasarkan jenis sampah tersebut, atau hanya satu buah tempat sampah biasa. Apapun itu, intinya ada tempat sampah.
Bagaimana dengan lingkungan/tempat yang tidak ada tulisan ”Buanglah sampah pada tempatnya” dan tidak juga disediakan tempat sampah??
Dimana kita harus meletakkan sampah-sampah kita??
Sebuah Fenomena yang saya perhatikan ketika saya berangkat atau pulang dengan kendaraan umum (khususnya mikrolet), yaitu penumpang yang ”lupa” dengan nilai dasar yang telah diajarkan orang tua atau gurunya saat kecil dulu.
Sedih rasanya ketika saya melihat seorang PELAJAR SMP yang sedang kehausan dan meminum 2 gelas air mineral dingin, lalu tanpa bersalah membuang bekas gelasnya ke kolong bangku angkot. Ingin rasanya saya bertanya padanya, ”dek,, gurunya ga ngajarin ya kalo buang sampah mesti pada tempatnya?”. Mungkin menurut pelajar smp itu, kolong bangku angkot adalah tempat yang tepat untuk membuang sampah, khan diajarinnya buanglah sampah pada ”tempatnya”. Ya mungkin pelajar smp itu ”lagi lupa”, saking hausnya.
Lalu saya melihat penumpang lain di waktu yang berbeda. Ada sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki (kayanya masih smp) memilih angkot sebagai kendaraan untuk berpergian. Awalnya adem ayem aja ni keluarga, tapi tiba-tiba sang anak kelaperan. Dan sang ibu memberikan sebuah kantong plastik hitam kepada anak tersebut. Ternyata kantong itu berisi buah klengkeng. (*hmm yummy ya) Anak itu pun segera memakan klengkeng itu. Tentu kalian tahu, seperti apa buah klengkeng, memiliki KULIT yang harus DIKUPAS serta berbiji. Saya pun semakin tertarik untuk memperhatikan anak tersebut. Dan saya kembali sedih, anak itu membuang kulit dan biji buahnya ke jendela alias jalan raya. Saya pun berharap, orang tua nya menegur anak nya karena telah membuang sampah sembarangan. Tapi kalian tahu apa yang terjadi? Sang ayah yang juga kelaparan dan memakan buah klengkeng itu, lalu membuang kulit dan bijinya ke lantai angkot, seperti meletakkan suatu benda ke meja (sangat santai dan tidak merasa bersalah). Kecewa rasanya melihat sang ayah mencontohkan yang tidak baik pada anaknya. Bahkan, saat kulit klengkeng itu terjatuh di tas sang anak, sang ayah menyingkirkan kulit itu ke lantai angkot seakan ia tidak ingin tas anaknya terkotori. Apa mereka tidak sadar, sang pemilik angkot pasti juga tidak ingin kendaraannya dikotori.
Hmm,, masih banyak lagi kejadian-kejadian seperti ini yang saya lihat di angkutan umum. Ini baru diangkutan umum lho, belum di tempat-tempat lain (yang mungkin TELAH disediakan tempat sampah atau fenomena membuang sampah di sungai??).
Nah,, bagaimana nih kalo kita yang berada di tempat yang memang tidak disediakan tempat sampah?
Apa benar yang dilakukan oleh penumpang yang saya ceritakan? *khan ga disediain tempat sampah,, jadi dimana aja boleh buang sampah donk..
Sebenarnya apapun alasannya, membuang sampah sembarangan JELAS SALAH. Entah dengan alasan karena memang tidak disediakan tempat sampah, atau males jalan ke tempat sampahnya, atau mumpung ga ada yang lihat.
Sadarkah kita bahwa hal ”kecil” semacam ini dapat berdampak besar pada bumi kita. Awalnya, membuang sampah sembarangan itu hanya menyebabkan lingkungan jadi tidak bersih. Tapi pada akhirnya membuang sampah sembarangan itu dapat menimbulkan bencana, misalnya BANJIR *ibukota kita banjir karena apa? Karena sampah kah? (renungkan!)
Jadi solusi nya gimana nih??
Untuk tempat/lingkungan yang ADA tempat sampahnya: ya jelas “buanglah sampah pada tempatnya”. Hilangkan segala rasa malas dan merasa tidak diawasi.
“,,,. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hadid [57]:4)
*masih berniat membuang sampah sembarangan??
Untuk tempat/lingkungan yang TIDAK ADA tempat sampahnya: hmm,, gimana kalo sampahnya kita kantongin atau masukin dalam tas?? Sampai kita melihat sebuah tempat sampah lalu membuangnya.
Apa kalian merasa jijik jika sampah kalian diletakkan di dalam kantong baju atau tas? Kalo kalian sendiri jijik dengan sampah kalian sendiri, bagiamana dengan orang lain yang menemukan sampah kalian?? Coba dipikirkan.
Mana yang kalian pilih?
a. menjadi orang yang suka membuang sampah sembarangan
b. menjadi orang yang tas/kantong bajunya berisi sampah
HIDUP ADALAH PILIHAN.
Termasuk ingin berbuat kebaikan atau kerusakan pada bumi kita tercinta ini. :)
”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum [30]:41)
*na’uzubillah, apakah kita menunggu diberikan bencana dahulu, baru kita sadar?
-Terimakasih kepada M01,M18,M28,K02 yang telah setia mengantar saya dan memberikan banyak pengalaman dan pelajaran-
-Maaf kalau ternyata tulisan ini hanya sekedar 'sampah'-
Kalimat ”Buanglah sampah pada tempatnya” pastinya disertai dengan penyediaan tempat sampah pada lingkungan tersebut. (masa’ iya, ada tulisan gede ”Buanglah sampah pada tempatnya”, tapi ga ada tempat sampahnya..hehe) . Ada beberapa lingkungan yang memisahkan sampah-sampahnya berdasarkan jenis sampah tersebut, atau hanya satu buah tempat sampah biasa. Apapun itu, intinya ada tempat sampah.
Bagaimana dengan lingkungan/tempat yang tidak ada tulisan ”Buanglah sampah pada tempatnya” dan tidak juga disediakan tempat sampah??
Dimana kita harus meletakkan sampah-sampah kita??
Sebuah Fenomena yang saya perhatikan ketika saya berangkat atau pulang dengan kendaraan umum (khususnya mikrolet), yaitu penumpang yang ”lupa” dengan nilai dasar yang telah diajarkan orang tua atau gurunya saat kecil dulu.
Sedih rasanya ketika saya melihat seorang PELAJAR SMP yang sedang kehausan dan meminum 2 gelas air mineral dingin, lalu tanpa bersalah membuang bekas gelasnya ke kolong bangku angkot. Ingin rasanya saya bertanya padanya, ”dek,, gurunya ga ngajarin ya kalo buang sampah mesti pada tempatnya?”. Mungkin menurut pelajar smp itu, kolong bangku angkot adalah tempat yang tepat untuk membuang sampah, khan diajarinnya buanglah sampah pada ”tempatnya”. Ya mungkin pelajar smp itu ”lagi lupa”, saking hausnya.
Lalu saya melihat penumpang lain di waktu yang berbeda. Ada sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki (kayanya masih smp) memilih angkot sebagai kendaraan untuk berpergian. Awalnya adem ayem aja ni keluarga, tapi tiba-tiba sang anak kelaperan. Dan sang ibu memberikan sebuah kantong plastik hitam kepada anak tersebut. Ternyata kantong itu berisi buah klengkeng. (*hmm yummy ya) Anak itu pun segera memakan klengkeng itu. Tentu kalian tahu, seperti apa buah klengkeng, memiliki KULIT yang harus DIKUPAS serta berbiji. Saya pun semakin tertarik untuk memperhatikan anak tersebut. Dan saya kembali sedih, anak itu membuang kulit dan biji buahnya ke jendela alias jalan raya. Saya pun berharap, orang tua nya menegur anak nya karena telah membuang sampah sembarangan. Tapi kalian tahu apa yang terjadi? Sang ayah yang juga kelaparan dan memakan buah klengkeng itu, lalu membuang kulit dan bijinya ke lantai angkot, seperti meletakkan suatu benda ke meja (sangat santai dan tidak merasa bersalah). Kecewa rasanya melihat sang ayah mencontohkan yang tidak baik pada anaknya. Bahkan, saat kulit klengkeng itu terjatuh di tas sang anak, sang ayah menyingkirkan kulit itu ke lantai angkot seakan ia tidak ingin tas anaknya terkotori. Apa mereka tidak sadar, sang pemilik angkot pasti juga tidak ingin kendaraannya dikotori.
Hmm,, masih banyak lagi kejadian-kejadian seperti ini yang saya lihat di angkutan umum. Ini baru diangkutan umum lho, belum di tempat-tempat lain (yang mungkin TELAH disediakan tempat sampah atau fenomena membuang sampah di sungai??).
Nah,, bagaimana nih kalo kita yang berada di tempat yang memang tidak disediakan tempat sampah?
Apa benar yang dilakukan oleh penumpang yang saya ceritakan? *khan ga disediain tempat sampah,, jadi dimana aja boleh buang sampah donk..
Sebenarnya apapun alasannya, membuang sampah sembarangan JELAS SALAH. Entah dengan alasan karena memang tidak disediakan tempat sampah, atau males jalan ke tempat sampahnya, atau mumpung ga ada yang lihat.
Sadarkah kita bahwa hal ”kecil” semacam ini dapat berdampak besar pada bumi kita. Awalnya, membuang sampah sembarangan itu hanya menyebabkan lingkungan jadi tidak bersih. Tapi pada akhirnya membuang sampah sembarangan itu dapat menimbulkan bencana, misalnya BANJIR *ibukota kita banjir karena apa? Karena sampah kah? (renungkan!)
Jadi solusi nya gimana nih??
Untuk tempat/lingkungan yang ADA tempat sampahnya: ya jelas “buanglah sampah pada tempatnya”. Hilangkan segala rasa malas dan merasa tidak diawasi.
“,,,. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hadid [57]:4)
*masih berniat membuang sampah sembarangan??
Untuk tempat/lingkungan yang TIDAK ADA tempat sampahnya: hmm,, gimana kalo sampahnya kita kantongin atau masukin dalam tas?? Sampai kita melihat sebuah tempat sampah lalu membuangnya.
Apa kalian merasa jijik jika sampah kalian diletakkan di dalam kantong baju atau tas? Kalo kalian sendiri jijik dengan sampah kalian sendiri, bagiamana dengan orang lain yang menemukan sampah kalian?? Coba dipikirkan.
Mana yang kalian pilih?
a. menjadi orang yang suka membuang sampah sembarangan
b. menjadi orang yang tas/kantong bajunya berisi sampah
HIDUP ADALAH PILIHAN.
Termasuk ingin berbuat kebaikan atau kerusakan pada bumi kita tercinta ini. :)
”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum [30]:41)
*na’uzubillah, apakah kita menunggu diberikan bencana dahulu, baru kita sadar?
-Terimakasih kepada M01,M18,M28,K02 yang telah setia mengantar saya dan memberikan banyak pengalaman dan pelajaran-
-Maaf kalau ternyata tulisan ini hanya sekedar 'sampah'-
Labels:
Catatan Perjalanan
